Protected: Jauh Namun Dekat

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Wahyu 18:20-24

「Pembalikan Tangis dan Sukacita」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 18:20-24 [ITB])
20 Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu.
21 Dan seorang malaikat yang kuat, mengangkat sebuah batu sebesar batu kilangan, lalu melemparkannya ke dalam laut, katanya: Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi. 22 Dan suara pemain-pemain kecapi dan penyanyi-penyanyi, dan peniup-peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi di dalammu, dan seorang yang ahli dalam sesuatu kesenian tidak akan ditemukan lagi di dalammu, dan suara kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. 23 Dan cahaya lampu tidak akan bersinar lagi di dalammu, dan suara mempelai laki-laki dan pengantin perempuan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Karena pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi, oleh ilmu sihirmu semua bangsa disesatkan.
24 Dan di dalamnya terdapat darah nabi-nabi dan orang-orang kudus dan darah semua orang, yang dibunuh di bumi.

Literatur apokaliptik sering menggunakan kontras perbandingan untuk mengekspresikan sebuah makna. Kontras yang sering ditemui dalam kitab Wahyu adalah hidup, mati, di surga, di bumi dan sebagainya. Dalam ayat hari ini, dapat dilihat kontras antara ratapan dan sukacita. Kontras ini dimulai dari teks sebelumnya di atas yang adalah nyanyian ratapan, dan hari ini nyanyian sukacita. Suara yang dalam teks di atas melanjutkan berbicara dalam paragraf ini: Bersukacitalah atas dia, hai sorga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu, menegakkan keadilan bagi mu (ayat 20). Ternyata orang-orang yang melihat ditunggangbalikkannya Babel, ada yang meratap, tetapi ada juga yang bersukacita! Mereka yang berduka adalah mereka yang enggan kehilangan manfaat keuntungan kota besar: raja, pedagang, dan orang-orang pelayar; tetapi yang bersukacita adalah orang-orang kudus, para rasul, para nabi, para pengikut Tuhan, apa yang mereka harapkan dan akhirnya didapatkan, adalah Tuhan di Surga menegakkan keadilan bagi mereka.

Selain ratapan dan sukacita, ada kontras lain dalam ayat-ayat hari ini (21b-23a). Kita perhatikan bahwa ada frasa yang diulang-ulang: tidak akan ditemukan lagi atau tidak akan kedengaran lagi, total lima kali, semua menunjuk pada hal-hal indah dalam hidup: memainkan kecapi, bernyanyi menunjuk kepada suara yang indah untuk didengar, namun tidak terdengar lagi; seni kerajinan tangan membuat barang-barang yang indah, tidak terlihat lagi; kilangan adalah untuk menyiapkan makanan, tidak terdengar lagi; lampu dian adalah untuk bercahaya, tetapi tidak bersinar lagi, pernikahan itu gembira tetapi sudah tidak terlihat. Serangkaian tidak akan ada lagi ini adalah kemunduran Babel yang membentuk kontras yang sangat besar dengan kekayaan kejayaannya dahulu.

Umat Allah bersukacita dalam merosotnya Babel, apakah itu sukacita atas penderitaan orang lain? Tidak! Mereka tidak bersukacita atas bencana orang, juga bukan gembira bahwa yang memiliki kini menjadi yang tidak memiliki, tetapi mereka bersukacita karena aniaya ketidakadilan yang terpendam itu sudah ditegakkan, bergembira karena keadilan kebenaran dibuat menjadi nyata. (ayat 20). Karena kota besar itu selama ini memanjakan dosa kejahatan, begitu banyak intimidasi aniaya yang terjadi. Dua kalimat terakhir dari paragraf ini menunjukkan masalah serius dari dirinya: Karena pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi, oleh ilmu sihirmu semua bangsa disesatkan (23b). Ini untuk mengatakan bahwa para pedagang Babel sangat semena-mena, memiliki kuasa kekuatan, memiliki pengaruh, menyesatkan orang-orang di bumi, menggunakan tukang sihir, termasuk memperalat agama untuk membuat kekayaan, dan berkolusi dengan rezim Romawi untuk memonopoli pasar, sementara orang Kristen tidak menyembah Caesar Romawi terus-menerus dimarginalkan, diusir, diintimidasi oleh mereka. Karena itu dikatakan, yang ada adalah di dalamnya terdapat darah nabi-nabi dan orang-orang kudus dan darah semua orang, yang dibunuh di bumi (ayat 24)

Mari kita lihat masyarakat dan negara kita sendiri: apakah orang miskin kita ditindas? Apakah orang Kristen dianiaya karena iman mereka? Apakah orang yang kurang beruntung dan cacat dilecehkan? Jika ada, maka tidak peduli seberapa maju masyarakatnya, seberapa kaya dan kuat negeri ini, kita harus meratap sedih! Meminta belas kasih kepada Tuhan di surga! Sadarilah bahwa jika kegembiraan di bumi berasal dari ketidakadilan, suatu hari, ketika penghakiman Allah datang, hal-hal yang disebut kegembiraan jaya ini akan berubah menjadi nihil.

Renungkan:

Para ahli menunjukkan bahwa frasa yang ahli dalam sesuatu kesenian (ayat 22b) mengacu pada semua lapisan masyarakat di Roma, dan orang Kristen sering mengalami penolakan dipinggirkan karena mereka percaya kepada Yesus, sehingga tidak mudah untuk masuk dan mencari pekerjaan. Bisakah ini terjadi dalam masyarakat saat ini? Apakah saya bersedia menyerahkan dan melepaskan masa depan yang baik demi mengikuti Tuhan Yesus?

Di kota besar Babel, pengusaha besar itu seperti orang kaya besar yang memegang kekuasaan (ayat 23d). Ketika tiba saatnya untuk jatuh, dia seperti batu kilangan besar akan dilempar ke laut dengan keras oleh malaikat yang bertenaga besar (ayat 21)! Apakah kedua besar itu juga merupakan kontras dalam perikop Kitab Suci ini?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 18:9-19

「Kelimpahan Musnah Semuanya dalam Satu Jam」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 18:9-18 [ITB])
9 Dan raja-raja di bumi, yang telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia, akan menangisi dan meratapinya, apabila mereka melihat asap api yang membakarnya. 10 Mereka akan berdiri jauh-jauh karena takut akan siksaannya dan mereka akan berkata: Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!
11 Dan pedagang-pedagang di bumi menangis dan berkabung karena dia, sebab tidak ada orang lagi yang membeli barang-barang mereka, 12 yaitu barang-barang dagangan dari emas dan perak, permata dan mutiara, dari lenan halus dan kain ungu, dari sutera dan kain kirmizi, pelbagai jenis barang dari kayu yang harum baunya, pelbagai jenis barang dari gading, pelbagai jenis barang dari kayu yang mahal, dari tembaga, besi dan pualam, 13 kulit manis dan rempah-rempah, wangi-wangian, mur dan kemenyan, anggur, minyak, tepung halus dan gandum, lembu sapi, domba, kuda dan kereta, budak dan bahkan nyawa manusia. 14 Dan mereka akan berkata: Sudah lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi. 15 Mereka yang memperdagangkan barang-barang itu, yang telah menjadi kaya oleh dia, akan berdiri jauh-jauh karena takut akan siksaannya, dan sambil menangis dan meratap, 16 mereka berkata: Celaka, celaka, kota besar, yang berpakaian lenan halus, dan kain ungu dan kain kirmizi, dan yang dihiasi dengan emas, dan permata dan mutiara, sebab dalam satu jam saja kekayaan sebanyak itu sudah binasa.
17 Dan setiap nakhoda dan pelayar dan anak-anak kapal dan semua orang yang mata pencahariannya di laut, berdiri jauh-jauh, 18 dan berseru, ketika mereka melihat asap api yang membakarnya, katanya: Kota manakah yang sama dengan kota besar ini? 19 Dan mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka dan berseru, sambil menangis dan meratap, katanya: Celaka, celaka, kota besar, yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal, sebab dalam satu jam saja ia sudah binasa.

Wahyu 8 seluruhnya berbicara tentang Babel ditunggangbalikkan Kemarin kita membaca beberapa ayat pembukaan yang berbicara tentang alasan Babel ditunggangbalikkan adalah karena dosanya (ayat 1-8), dan besok kita akan membaca beberapa ayat terakhir yang berbicara tentang keadaan akhir dari Babel ditunggangbalikkan adalah sepenuhnya dihancurkan (ayat 20-24). Ayat 9-19 hari ini adalah pertengahan dari pasal 18; bagian ini lebih panjang dibandingkan perikop sebelum dan sesudahnya, dan terdiri dari tiga sub-bagian nyanyian ratapan, yang harus dibaca bersama untuk melihat intinya (ayat 9-10, 11-17a, 17b-19).

Tidak sulit bagi kita untuk menemukan bahwa permulaan dari ketiga ratapan ini adalah sama: Celaka, celaka (ayat 10, 16-17a, 19). Tiga ratapan diucapkan oleh tiga kelompok peran: raja di bumi, pedagang-pedagang di bumi, dan nakhoda dan pelayar dan anak-anak kapal dan semua orang yang mata pencahariannya di laut. Jika membacanya dengan cermat, meskipun ketiga kelompok orang menggambarkan Babel secara berbeda, tetapi mereka semua sangat konsisten menunjukkan bahwa kota besar itu ditunggangbalikkan dalam satu jamsaja dan terbalik. Dua frasa Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar … dan dalam satu jam … dalam ketiga nyanyian ratapan masing-masing membawakan keluar inti utama.

Ratapan paragraf kedua, yang merupakan bagian tengah, cukup panjang (ayat 11 sampai 17a). Paragraf ini sedikit berbeda dengan yang sebelum dan sesudahnya. Dalam deskripsi di bagian sebelum dan sesudahnya, raja-raja dan orang-orang yang mata pencahariannya di laut melihat asap api yang membakarnya dan menangis (lihat ayat 9, 18) yaitu mereka sedih atas terbakar habisnya kota besar itu secara total (lih. 17:16), tetapi di bagian tengah, para pedagang berduka karena tidak ada orang lagi yang membeli barang-barang mereka (ayat 11). Penulis berbicara sampai di sini lalu dengan sangat rinci memberikan daftar barang-barang dagangan: dari dari emas dan perak, permata dan mutiara, …, (ayat 12) hingga … lembu sapi, domba, kuda dan kereta, budak dan bahkan nyawa manusia (ayat 13) seluruhnya sebanyak dua puluh sembilan item; setelah itu, dibuat ringkasan: Sudah lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi (ayat 14). Dari struktur ini dapat dilihat inti dari seluruh paragraf ada di bagian pedagang ini, di sini mencakup semua jenis barang yang tampaknya didambakan dengan meneteskan air liur, semua barang kemewahan, dalam sesaat saja langsung lenyap.

Seperti dapat dilihat dari daftar barang yang panjang ini, penunggangbalikkan Babel bukan sekedar karena kaya dan melakukan bisnis, tetapi juga karena ia mengejar kemewahan tanpa batas, mencari kesenangan tanpa ukuran, tamak tanpa pernah puas, dan tidak peduli kemanusiaan (ayat 13). Jika kita melihat secara terperinci dari mana datangnya barang-barang yang tercantum di sini dikirimkan, kita dalam konteks historis akan melihat masa puncak kekaisaran Romawi Pax Romana. Peta kekuasaan besar yang membangun banyak jalan dan jalur laut, yang melintasi Laut Mediterania sehingga semua jenis barang dapat diangkut ke Roma dari banyak tempat yang jauh untuk memuaskan kehidupan mewah. Dan demi tercapainya hal itu, yang menderita adalah para budak dan bahkan nyawa manusia; kehidupan mereka dijualbelikan, dicelakai oleh orang kaya (ayat 13), terjemahan harfiah dari budak dan nyawa manusia adalah tubuh dan jiwa manusia (lihat terjemahan CUHW).

Saat ini, di negara-negara maju dan makmur, berapa banyak orang yang tergoda, serakah, menuruti hawa nafsu, dan kehilangan hati nurani, dan berapa banyak orang yang menjadi korban mereka? Nyanyian ratapan ini adalah tanda peringatan, memberi tahu orang-orang bahwa kemewahan kota besar dalam sekejap satu jam saja akan dihakimi dan menjadi hampa ─ apakah bernilai untuk menjual jiwa demi itu dan mengikuti arus gelombang orang banyak?

Renungkan:

Yehezkiel menubuatkan kematian Tirus dan juga menggunakan bentuk ratapan untuk menggambarkan situasi kehancurannya (Yeh. 26-27 klik untuk membaca). Coba lihat kesamaan antara kedua perikop tersebut. Juga bandingkan barang yang dibeli oleh dua tempat, mana yang lebih banyak membeli?

Ketika saya membeli sesuatu di lain waktu, apakah mau memikirkannya terlebih dahulu: apakah ini yang perlu saya beli atau tidak? Apakah ini sesuatu yang diberikan Tuhan, ataukah saya membelinya untuk memuaskan hasrat nafsu saya?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Ku Mau SepertiMu Yesus

Ba-gai-kan be-ja-na si-ap di-ben-tuk
就  如  同  器 皿  預 備 好  被  塑   造
jiù rú tóng qì mǐn yù bèi hǎo bèi sù zào
De-mi-kian hi-dup-ku di-ta-ngan-Mu
也 如   此  我  生  命 在 祢  手   中
yě rú cǐ wǒ shēng mìng zài Ní shǒu zhōng
De-ngan u-ra-pan kua-sa roh-Mu
 聖 靈  的 能 力  恩 膏  抹    我
Shèng Líng dí néng lì ēn gāo mǒ wǒ
Ku di-ba-ha-rui se-la-lu
使  我 一 天  新  似 一  天
shǐ wǒ yī tiān xīn sì yī tiān
Ja-di-kan ku a-lat da-lam ru-mah-Mu
改  造 我  成 為 祢  聖  所 的  器  皿
gǎi zào wǒ chéng wéi Ní shèng suǒ dí qì mǐn
I-ni-lah hi-dup-ku di ta-ngan-Mu
這 是 我  生  命  握 在 祢  手  裡
zhè shì wǒ shēng mìng wò zài Ní shǒu lǐ
Ben-tuk-lah s’tu-rut ke-hen-dak-Mu
改  塑   造   按   照 祢  的   意  思
gǎi sù zào àn zhào Ní dí yì sī
Pa-kai-lah se-suai ren-ca-na-Mu
願  使   用  安  照 祢   的 計  劃
yuàn shǐ yòng ān zhào Ní dí jì huá
Reff:
Ku mau s’per-ti-Mu Ye-sus
我  要   效   法 祢  耶  穌
wǒ yào xiào fǎ Ní Yé Sū
Di-sem-pur-na-kan sla-lu
可  不  斷  的  被  完  全
kě bù duàn dí bèi wán quán
Da-lam s’ge-nap ja-lan-ku
在  我  人    生  道  路  上
zài wǒ rén shēng dào lù shàng
Me-mu-lia-kan na-ma-Mu.
榮  耀 祢   的  尊  聖 名
róng yào Ní dí zūn shèng míng

Wahyu 18:1-8

「Keluarlah, Sudah Rubuh Babel!」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 18:1-8 [ITB])
1 Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya. 2 Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, 3 karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.
4 Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. 5 Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya. 6 Balaskanlah kepadanya, sama seperti dia juga membalaskan, dan berikanlah kepadanya dua kali lipat menurut pekerjaannya, campurkanlah baginya dua kali lipat di dalam cawan pencampurannya; 7 berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya: Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung. 8 Sebab itu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari, yaitu sampar dan perkabungan dan kelaparan; dan ia akan dibakar dengan api, karena Tuhan Allah, yang menghakimi dia, adalah kuat.

Banyak orang berpikir bahwa seseorang mati itu seperti pelita padam, setelah mati tidak akan ada apa-apa lagi. Tidak! Pelita setelah padam, ada abu; manusia mati, ada tubuh yang terbaring, tubuh sudah habis, masih ada jiwa orang itu …

Perikop hari ini memberi tahu kita bahwa setelah rubuhnya Babel, ia menjadi cangkang mati, dan sebelum dimusnahkan, menjadi sarang iblis — tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci (ayat 2), ini merujuk pada roh jahat Setan, dan berhala yang seperti burung dan binatang, seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya: … Sudah jatuh, sudah jatuh Babel, dan segala patung berhalanya telah diremukkan dan bertaburan di tanah. (Yes. 21:9) Kelak ketika kitab Wahyu dituliskan belakangan, Babel sudah binasa dan menggenapi apa yang disampaikan nabi Yesaya.

Dalam ayat-ayat yang kita baca beberapa hari yang lalu, kita telah berulang kali membaca Kitab Suci menyebutkan Babel ditunggangbalikkan, dan juga telah melihat malaikat mengutip kata-kata Yesaya yang disebutkan di atas (Why. 14:8; 16:19), tetapi Wahyu bukan merujuk pada Babel kuno, tetapi si pelacur besar di akhir zaman, yakni dunia gemerlapan penuh jerat godaan yang dikagumi banyak orang, bangsa, dan bahasa pada zaman ini (Why. 17:15). Dia bersekutu dengan binatang dan akhirnya dimusnahkan oleh binatang itu (Why. 17:3, 16). Mula-mula Yohanes dibawa ke padang gurun untuk melihat pelacur besar itu mendapatkan hukuman (Why. 17:1) — yakni perikop ini dan pasal delapan belas memuat pokok bahasan tersebut, ayat-ayat ini dengan sangat mendalam menggambarkan akhir dari Babel.

Apa yang dijelaskan dalam paragraf ini adalah situasi setelah rubuhnya tembok kota besar itu. Sebagai kota yang makmur, Babel sangat menarik orang untuk hidup di situ, tetapi daya tarikannya melibatkan nafsu, percabulan, kekuasaan, dan uang kekayaan (ayat 3), dan di balik godaan ini, ada juga dosa, kekerasan, dan kelicikan Setan. Karena itu, ketika kota besar itu jatuh, jubah luar kemakmuran jatuh terlepas, dan sisanya adalah roh najis kotoran Setan. Apakah kita memiliki mata rohani untuk tembus melihat situasi ini? Jika tembus melihat itu dan ingat bahwa diri kita adalah umat Allah, maka haruslah mendengarkan dan taat kepada suara yang datang dari Surga yang berkata, pergilah dari padanya keluarlah dari kota itu! (ayat 4), karena ketika dosa meningkat, penghakiman Allah datang kapan saja, segala malapetakanya akan datang dalam satu hari (ayat 8) Pada saat itu, orang-orang yang berkeliaran di kota besar itu sudah terlambat untuk keluar.

Bagaimana keluar dari kota itu? Bukan dengan kaki, karena Babel adalah metafora, merujuk pada dosa di dunia yang penuh kejayaan makmur ini, yang ada di mana-mana di setiap sudut di dunia, kita tidak dapat melarikan diri dengan kaki kita, tetapi kita dapat mengandalkan Firman perkataan Tuhan dan bantuan Roh Kudus melawan dosa kejahatan! Dalam keadaan tertentu, saya mungkin harus meninggalkan keramaian kota untuk menjauh dari dosa, tetapi yang terlebih harus saya lakukan adalah melawan iblis dan dengan gigih menyingkirkan dan melepaskan diri dari pengaruhnya (Yakobus 4:7).

Dalam perikop ini, Babel berkata, Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung. (ayat 7) begitu sombong, tetapi Babel ditunggangbalikkan rubuh dalam sekejap mata! Tuhan Yesus, peliharalah saya, jangan memiliki kesombongan Babel, jangan bermegah merasa diri besar karena sukses, kuat, jaya makmur! Roh Kudus, tolong terangi saya selamanya — saya bersedia menjadi lampu minyak yang rendah hati, menyalakan api rohani yang suci, dan tidak bersedia menjadi Babel yang rubuh ditunggangbalikkan, dan menjadi sarang roh najis yang kotor.

Renungkan:

Apa itu berhala? Haruskah patung itu diukir? Apa saja yang menjadi berhala yang disembah oleh orang-orang di kota-kota yang makmur?

Dalam menghadapi godaan Babel, adalah tepat untuk mengingat kalimat-kalimat emas berikut dalam pikiran: Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. (Yakobus 1:16-17)


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 17:15-18

「Pendominasi Saling Bunuh, Para Murtad Berakhir Tragis」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 17:15-18 [ITB])
15 Lalu ia berkata kepadaku: Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa. 16 Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api. 17 Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi. 18 Dan perempuan yang telah kaulihat itu, adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.

Perikop hari ini pendek, tetapi plot yang dituliskan di dalamnya tampaknya sulit dipahami: kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api (ayat 16). Mengapa ini terjadi? Bukankah binatang ini tunggangan pelacur itu, saling bersekutu dan memiliki kepentingan bersama? Bagaimana bisa saling bunuh? Namun, Firman Tuhan begitu ajaib menunjukkan kondisi masa akhir kelak itu (ayat 17). Jika kita berpikir dengan seksama (Why. 17:9), tidaklah sulit untuk melihat perkembangan keadaan dunia sangat sesuai dengan yang dikatakan di sini.

Di teks sebelumnya kita telah sedikit melihat karakteristik pelacur besar itu. Pertama, Setan merajalela di manapun ada kesempatan menganiaya dan mengintimidasi orang-orang di bumi: binatang laut dengan kekuatan totaliter politik menganiaya orang (Why. 13:1-10), dan binatang bumi menggunakan kemunafikan palsu agama menyesatkan orang untuk menyembah berhala (Why. 13:11-18). Pelacur besar itu adalah kota Babel yang sangat maju ekonomi perdagangannya, ia menggoda orang untuk bebas mengejar nafsu kesenangan dan kemuliaan kosong yang sia-sia (Why. 17:1-6). Memang ada keuntungan bersama politik dan ekonomi antara pelacur besar dan binatang itu, tetapi bukan tanpa kontradiksi dan konflik — pendominasi kekuatan politik pasti akan berusaha mengendalikan ekonomi, dan tidak akan pernah melepaskan mereka yang kuat finansialnya, Semua air yakni bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa orang-orang yang punya pengaruh besar (ayat 15, 18).

Melihat lebih mendalam, ada lebih banyak metafora mengenai wanita pelacur besar dalam tulisan Kitab Suci. Dalam konteks sejarah, sekutu dari pelacur besar itu adalah rezim Romawi (lihat renungan Wahyu 12:7-12), jadi kota besar pada waktu itu bukanlah Babel, tetapi Roma. Di zaman Roma kuno, rezim politik terpecah, kota Roma juga pernah diserang oleh para jenderal Romawi, sama seperti binatang itu dan sepuluh tanduk membenci pelacur besar, bergabung untuk menyerangnya. Di zaman Wahyu, di antara rakyat beredar legenda Nero datang lagi, bahwa tiran Nero akan dibangkitkan, dan akan membawa tentara dari timur menyerang Roma — semua ini menyatakan bahwa hegemoni pendominasi kekuasaan akan saling bertarung, dan berakibat keretakkan di antara mereka dan pecah terdekomposisi.

Pelacur besar itu juga memiliki makna simbolis penting lain, diungkapkan dalam metafora di Perjanjian Lama. Nabi Yehezkiel menggambarkan bahwa umat Allah dianiaya oleh musuh-musuh asing, ia berkata, … mereka memperlakukan engkau dengan kemurkaan, hidung dan telingamu akan dikerat … sisamu akan dimakan api … akan menelanjangi engkau … akan memperlakukan engkau dengan kebencian dan akan merampas segala hasil jerih payahmu dan meninggalkan engkau telanjang bugil … (Yeh. 23:25-29; 16:36-41); apa yang tertulis di sini sebenarnya adalah hukuman Allah. Ia membiarkan musuh-musuh asing menjarah umat-Nya yang murtad (lih. ayat 17). Ayat 16membakarnya dengan api mengacu pada kehancuran Yerusalem, telanjang menunjuk pada orang-orang Yahudi yang menjadi malu karena tidak setia kepada Tuhan. Ini digenapi pada diri pelacur besar itu (ayat 16), tepat menyindir orang-orang pada masa itu yang merapatkan diri pada kekuatan sinagoge dan murtad dari iman Kristus — jika kita tidak tahan godaan untuk berkompromi dengan dunia yang diwakili oleh pelacur besar itu, berpikir bisa mendapatkan manfaat langsung yang ada di depan mata, kelak akhir ceritanya akan mirip dengan pelacur besar itu: ditolak, dihina, diserang, dianiaya!

Secara ringkas, ada banyak orang di dunia ini yang dicobai oleh pelacur besar itu, yang tanpa mereka sadari jatuh dalam kenajisan dan dosa: tamak kemuliaan kosong, mempermainkan kekuasaan dan kekayaan, berkompromi, murtad, sehingga mengkhianati kebenaran — mohon Tuhan mengasihani saya! Pelihara lindungi saya agar tidak jatuh ke dalam godaan seperti itu, selamatkan saya lepas dari keganasan jahat pelacur besar dan binatang itu!

Renungkan:

Dalam situasi dan lingkungan saya saat ini, apa cara yang paling mungkin bagi pelacur besar untuk menggoda saya?

Aliansi sepuluh tanduk dari Antikristus telah saling bertarung dengan aliansi semua air dari pelacur besar, tetapi kuasa terbesar adalah Tuhan kita dan Allah kita (ayat 17). Apakah saya bersedia bersandar percaya pada Tuhan di dunia yang penuh pertempuran ini, mendapatkan damai yang sejati?


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.

Wahyu 17:7-14

「Rahasia Binatang: Telah Ada, Sekarang Tidak Ada, dan Akan Muncul Lagi」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí)

Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 17:7-14 [ITB])
7 Lalu kata malaikat itu kepadaku: Mengapa engkau heran? Aku akan mengatakan kepadamu rahasia perempuan itu dan rahasia binatang yang memikulnya, binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh itu. 8 Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.
9 Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, 10 ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja. 11 Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu dan ia menuju kepada kebinasaan.
12 Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu adalah sepuluh raja, yang belum mulai memerintah, tetapi satu jam lamanya mereka akan menerima kuasa sebagai raja, bersama-sama dengan binatang itu. 13 Mereka seia sekata, kekuatan dan kekuasaan mereka mereka berikan kepada binatang itu. 14 Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.

Perikop sebelumnya menggambarkan pelacur besar yang menunggang binatang buas (ayat 1-6), dan paragraf ini terus menjelaskan misteri wanita pelacur tersebut. Malaikat berkata kepada Yohanes yang merasa heran, Mengapa engkau heran? (ayat 7) Ini membuat orang teringat perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya, Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? (Mar. 4:13), dan hanya yang menjadi murid Tuhan Yesus saja yang memiliki kesempatan untuk memahami misteri Kerajaan Surga. Dalam perikop ini, malaikat melanjutkan: mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran apabila mereka melihat, binatang itu … (ayat 8b) — binatang itu membuat takjub karena ia memiliki kekuatan palsu milik antikristus, dapat meniru kematian dan kebangkitan Kristus, membuat manusia dunia sangat tersesat (ayat 8c) (Lihat renungan Wahyu 13:1-10). Di masa depan, ia akan memalsukan kedatangan kembalinya Kristus!

Karena itu, malaikat itu berulang kali menjelaskan: telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi (Why. 17:8a, 8c, 11). Ini berarti bahwa binatang itu sekarang tidak membawakan efek nyata apa-apa, karena dengan kemenangan dan kenaikan Kristus, Setan telah dikalahkan (lihat renungan Wahyu 12:7-12). Namun, ia lari dan merajalela di bumi, sebelum hari akhir datang, ia akan makin lama makin buas, itulah ia akan muncul lagi (CUV akan ada lagi), untuk memalsukan berpura-pura menjadi kedatangan kembali Kristus. Namun, malaikat itu mengulangi bahwa akhir darinya adalah menuju kepada kebinasaan (ayat 8a, 11). Ini sangat kontras dengan Allah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (lih. 1:4, 8; 4:8, dll.).
Ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk (ayat 9), dalam sejarah, kota Romawi disebut kota tujuh bukit karena memiliki tujuh gunung, wanita pelacur besar pada waktu itu bersekutu dengan rezim Romawi; tujuh raja adalah Kaisar Romawi yang diperalat oleh Setan, yakni seperti yang dikatakan malaikat, kita harus memiliki akal yang mengandung hikmat (ayat 9), mengetahui bahwa kerusakan Setan merajalela lintas generasi. Dengan demikian, kita harus memahami makna dari penulisan metaforis dan simbolis dari sudut pandang sastra Apokaliptik. Ketujuh raja ini tidak harus merujuk pada masing-masing satu raja atau kekaisaran. Tujuh berarti lengkap, maka apa yang digambarkan adalah betapa luas, lama, dan kejam rezim yang dikendalikan oleh binatang tersebut, dan kebangkitan kejatuhan rezim penguasa adalah hal yang sering terjadi berulang-ulang. Karena itu, lima di antaranya sudah jatuh merujuk pada raja-raja atau negara-negara yang telah berlalu,yang satu ada mengacu pada kekuasaan saat ini, adapun yang lain belum datang adalah yang akan datang di masa akhir (ayat 10). Dari angka ini, masa yang sekarang sudah mendekati akhir!

Binatang itu pada akhirnya akan binasa seperti raja di bumi, tetapi binatang itu disebut raja kedelapan (ayat 11), memiliki makna akan membuat serangan terakhir! Sebelumnya kita telah membaca tentang pertempuran Harmagedon: pada akhir hari, Setan akan mengumpulkan kekuatan raja-raja untuk berperang melawan Allah (lihat renungan Wahyu 16:12-21). Dalam ayat hari ini, kita melihat bahwa sepuluh tanduk di kepala binatang adalah sepuluh raja, yang belum mulai memerintah (ayat 12), menunjukkan bahwa mereka adalah rezim yang akan didirikan di masa depan, dan sepuluh tanduk ini jelas tumbuh di kepala yang ketujuh adalah karena belum mulai. Mereka adalah rekan sebarisan dari binatang itu dalam pertempuran, kekuatan dan kekuasaan mereka mereka berikan kepada binatang itu (ayat 13), berperang melawan Anak Domba. Namun, Anak Domba adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja dan dia pasti akan menang atas mereka (ayat 14)!

Renungkan:

Dari lintasan sejarah dapat dilihat: satu dinasti telah jatuh, dinasti lain akan bangkit kembali; satu perang telah mereda, dan segera setelah itu, perang lainnya akan terjadi. Apakah saya memperhatikan adanya hal ini dalam sejarah yang saya ketahui atau alami?

Kristen menerima penganiayaan juga demikian: pada suatu waktu, penganiayaan yang parah mereda, tetapi entah bagaimana, penindasan yang lebih parah datang lagi! Semoga perikop ini memperlengkapi saya, menguatkan hati saya, menghadapi pertempuran, dan mengikuti Anak Domba yang adalah Tuan segala tuan dan Raja segala raja untuk menuju kemenangan.


Renungan pemahaman kitab Wahyu (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman Surat atau Kitab yang lain (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 10-22 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan September 2019, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Renungan untuk Kalangan Kristen.


Iklan yang ada bukan milik blog ini, tetapi milik WordPress penyedia fasilitas blog tanpa biaya.