Wahyu 4:1-3

「Sembahlah Tuhan yang Duduk di Takhta di Sorga」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 4:1-3 [ITB])
1 Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: 「Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.」
2 Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. 3 Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

Wahyu mencatat empat penglihatan Yohanes. Dan yang ia alami dalam keempat penglihatan adalah serupa, yakni terlebih dahulu mendengar suara penuh kuasa seperti bunyi sangkakala berbicara kepadanya (1:10; 4:1; 17:1; 21:9), pada saat yang sama dikuasai oleh Roh, lalu melihat penglihatan. Perikop hari ini mencatat pengalaman yang kedua, kali ini dia dibawa ke surga, dan kita akan membaca penglihatannya ini dalam Wahyu pasal 4-16.

Suara yang berbicara kepadanya mengatakan demikian: 「Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.」 Yohanes mendengar suara berbicara ini adalah setelah 「Kemudian dari pada itu」 (lih. ayat 1a), kapankah 「Kemudian dari pada itu」? Ini merupakan kunci penting dalam menafsirkan kitab Wahyu. Ada beberapa orang pernah menafsirkan pasal 2-3 sebagai 「era gereja」 dan memandang 「kemudian dari pada itu」 sebagai masa sesudah gereja diangkat naik, seolah-olah nubuatan Wahyu terpenuhi sesuai urutan waktu. Dengan demikian, gereja tidak akan mengalami apa yang dinubuatkan dalam pasal 4-16, tapi ini bukan maksud dari kitab Wahyu, juga bukan dalam kebiasaan penulisan nubuat apokaliptik. Sebenarnya terdapat kaitan dengan Perjanjian Lama, dalam cara penulisannya mirip dengan Daniel 2:28-29, yakni 「apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang, … yang akan terjadi di kemudian hari」, dan di perikop ini 「kemudian dari pada itu」, semua mengacu pada 「akhir zaman」 yang dinantikan orang-orang Yahudi. Sekarang saatnya telah tiba, Anak Manusia telah menyelesaikan keselamatan, membawa akhir zaman, maka frasa 「kemudian dari pada itu」 adalah menunjuk kepada periode antara kemenangan Tuhan (setelah kebangkitan-Nya) dan kedatangan-Nya kembali. Gereja sekarang berada dalam periode hari-hari terakhir ini, bersaksi bagi Tuhan. Oleh karena itu, penderitaan yang dinubuatkan dalam pasal 4 – 16 adalah apa yang akan dialami oleh gereja.

Dalam ketujuh surat di pasal 2-3 di atas, janji terakhir yang Anak Manusia berikan kepada gereja adalah 「Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.」 (3:21). Bagaimana janji indah ini dapat dilihat oleh Gereja sedang berada dalam penderitaan kesusahan? Dalam pasal 4-5 berikutnya, ketika Yohanes dibawa ke surga untuk melihat penglihatan itu, kita segera melihat pemandangan surga: 「sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang」 (4:2).

Perikop hari ini menggunakan permata yaspis, permata sardis, zamrud, dan pelangi untuk melukis keindahan kemuliaan Allah dan keindahan takhta Allah (4:3; lih. Yehezkiel 1:26, 28; 10:1); ayat-ayat ini berfokus tentang supremasi dan kemuliaan Tuhan. Saat kitab Wahyu dituliskan, yang duduk di takhta dunia adalah raja Kekaisaran Romawi ── seorang yang arogan, raja Romawi yang memproklamirkan diri sebagai Allah, dan gereja-gereja di Asia mengalami penganiayaan dituntut untuk menyembah raja dunia ini, yaitu Caesar Roma. Mari kita bertanya, Caesar di bumi dan Tuhan Allah yang duduk di atas takhta surga, siapa yang layak disembah? Kiranya Roh Kudus yang menggerakkan Yohanes juga menggerakkan kita, agar kita melihat takhta indah mulia di surga, rindu datang di hadapan Allah sejati yang duduk di atasnya, sehingga tidak takut atas paksaan atau bujukan di dunia, paham untuk datang di hadirat takhta surgawi, dan menyembah Allah yang benar.

Renungkan:
Gereja-gereja lokal, ada yang besar dan kecil, ada yang menjulang tinggi di atas awan, dan ada tersembunyi di rumah-rumah orang. Permasalahannya hanya satu: Siapa yang disembah? Bisakah kita menyadari bahwa yang kita sembah adala Ia yang duduk di atas takhta di surga?

Bagi gembala atau orang yang memimpin ibadah: bagaimana kita memimpin jemaat dalam ibadah melampaui atap yang di bumi, datang ke hadirat Allah yang duduk di takhta di surga?

Marilah introspeksi kembali, tahta apa yang saya rindukan? Kursi 「BMW」, 「Porsche」, 「Peugeot」 atau 「Ferrari」? Apakah ada hal-hal yang saya cintai di bumi yang menjadi objek pemujaan saya?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Advertisements

Wahyu 3:14-22 (2)

「Teguran dalam Kasih」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 3:14-22 [ITB])
14 Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
15 『Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.』」

Anak Manusia 「menegur」 sangat keras di paruh pertama surat ini (kita sudah melihatnya kemarin), tetapi mulai ayat 19 kata-kata-Nya penuh dengan kasih! Ia berkata: 「Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar」, artinya meskipun gereja Laodikia berbangga diri, munafik, buta, namun Allah masih mencintainya, Dia tidak menyerah atas mereka, terlebih lagi mengharapkan mereka bertobat. Hari ini mari kita lihat, apa hubungan antara Anak Manusia dan gereja, sehingga Dia tidak akan meninggalkan Gereja?

Dapat dilihat di paruh kedua surat ini terdapat beberapa kata kerja yang mengandung perasaan yang mendalam, yang mencerminkan bahwa Tuhan, Allah sangat berharap mempertahankan hubungan yang erat dengan Gereja.

「Teguran adalah didikan」 (ayat 19), merupakan perhatian rawatan ayah terhadap anak, seperti Amsal 3:12 mengatakan: 「TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. 」 Juga Ibrani 12:6: 「Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.」Benar, saya mungkin bukan lagi berusia anak-anak, tapi memiliki Bapa Allah yang menyertai seumur hidup, ketika saya berbuat kesalahan, Ia memandang saya sebagai anak sehingga menegur dengan keras, apakah saya tidak mau mendengarkan dan menerima? Tidak mengherankan bahwa Yesus berkata 「sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 」 (Matius 18:3)

Melanjutkan membaca ke bawah, seperangkat kata kerja lain menggambarkan kasih dan penantian dari Anak Manusia: 「Aku berdiri」, 「mengetuk」, 「masuk」, 「makan bersama-sama dengan dia」 (ayat 20). CUVT menerjemahkan sebagai 「duduk bersama di perjamuan」menunjuk kepada makan bersama. Ini adalah relasi bersekutu yang dekat, dan Tuhan memang harus memiliki relasi gereja yang dekat, seperti pohon anggur dan cabang tersambung jadi satu (Yoh. 16:4). Hanya saja, begitu orang-orang Kristen mencapai kesuksesan, mereka sering menjadi dingin kepada Tuhan, antusias terhadap dunia, dan meninggalkan Tuhan serta menjadi tuan atas diri sendiri. Namun, dapatkah Tuhan perjanjian berkhianat pada perjanjian-Nya sendiri? Anak Manusia di awal surat ini mengatakan Dia adalah 「Saksi yang setia dan benar」, yang meliputi kehendak yang tidak berubah, sama seperti pasangan pengantin pria yang setia. 「Berdiri」, 「mengetuk」, 「masuk」 adalah penantian Anak Manusia penuh kasih, seperti yang dijelaskan dalam Perjanjian Lama TUHAN penuh kasih, setia memanggil umat-Nya untuk bertobat. Bisakah kita mendengar panggilannya melalui perikop ini? Bersediakah saya membuka kehidupan saya dan membiarkan Dia datang masuk sebagai Tuhanku, sehingga saya bisa berelasi erat dengan Dia?

Akhirnya, Anak Manusia juga berkata: 「Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku」 (ayat 21). Kata kerja ini berarti: Tuhan kita ingin berbagi Kerajaan dan kemuliaan dengan kita. Ini adalah yang abadi dan berharga dibandingkan kekayaan dan prestasi dunia.

Bayangkan, jika saya memiliki kekayaan, prestasi, dengan siapa saya akan berbagi? Jika bukan untuk orang yang saya kasihi, akankah bersedia berbagi hal-hal yang berharga dengannya? Tuhan mengasihi saya seperti ini, jadi Dia menegur saya dan menunggu saya untuk bertobat, sehingga dapat memberi saya yang paling berharga, yaitu kemuliaan-Nya!

Renungkan:
Sudah berapa lama saya tidak tenang di hadapan Tuhan dan berbincang dengan-Nya?

Berapa lama saya tidak ditegur, sehingga saya selalu berpikir diri saya selalu benar? Berapa lama saya tidak mendengar Firman Tuhan dalam Alkitab dan mengetahui bahwa saya telah melakukan kesalahan?

Ada banyak cara untuk mengungkapkan kasih. Ambil contoh bagian ini, bagaimana cara Allah mengasihi umat-Nya? Dalam hidup saya, bagaimana saya pernah mengalami Tuhan mengasihi saya?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 3:14-22

「Jangan Lupakan Nilai Surgawi」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 3:14-22 [ITB])
14 Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
15 『Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.』」

Gereja Laodikia disalahkan karena 「tidak dingin atau panas」 (ayat 15), mau tak mau kita terpikir bahwa kita juga mungkin punya sikap dingin, dan mungkin akan berdoa: 「Tuhan, kiranya buat hati saya menjadi sungguh-sungguh dan berdedikasi melayani.」 Doa yang demikian memang menyenangkan Tuhan, itu juga sejalan dengan ajaran surat ini:「bersemangatlah」 (ayat 19, sesuai BIMK dan CUVT, dalam mayoritas Inggris sebagai 「zealous, earnest」, sedangkan ITB terjemahkan sebagai 「relakanlah hatimu」).

Namun, yang dicela dalam surat ini bukan hanya ketidakpedulian setengah hati, karena dalam metafora ini, dingin bukan berarti ketidakpedulian, dan sebenarnya air suam lebih tidak diinginkan daripada air dingin atau air panas. Ternyata di dekat Laodikia adalah Kolose yang airnya dapat dipakai untuk minum, dingin dan enak; juga ada Hierapolis sumber air panas yang kuratif (mempunyai daya untuk mengobati), masing-masing memiliki kegunaan. Tetapi secara relatif, air suam Laodikia tidak ada guna apa-apa, jika diminum akan membuat orang ingin memutahkannya.
Surat ini menggunakan air hangat untuk mencerminkan masalah gereja, mengatakan bahwa mereka telah kehilangan peran gereja yang sepatutnya ada. Anak Manusia mengatakan: 「Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku」 (ayat 16), sama dengan mengatakan garam kehilangan rasanya, 「Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.」(Matius 5:13).

Apa peran gereja? Ini bisa dilihat di awal surat. Anak manusia menyebut diri-Nya sebagai 「Amin」adalah Saksi 「yang setia」 dan 「yang benar」 (ayat 14), tiga kata ini memiliki makna yang identik dengan fokus penekanan: Anak Manusia adalah Saksi yang benar, kredibel dan dapat diandalkan, dan sebagai 「Kepala yang berkuasa」 (lih. 1:4-5), Dia mengharapkan gereja menjadi saksi yang dapat diandalkan dan sejati seperti Dia.

Pertanyaannya adalah: dapatkah kekayaan dan prestasi menjadikan kita saksi yang benar dan dapat diandalkan? Belum tentu! Kekayaan dan kesuksesan pasti merupakan kasih karunia Allah, tetapi kita harus mengingatkan diri kita bahwa 「kelebihan」 setiap saat bisa digunakan oleh Setan, membuat orang puas diri, munafik, buta, tidak dapat menentukan apa nilai riil yang sejati. Ini adalah kasus gereja Laodikia. Mereka merasa kaya karena keadaan mereka kaya 「emas」, tetapi mereka tidak memiliki kemurnian yang diwakili oleh 「emas yang telah dimurnikan dalam api」. Mereka memiliki 「wol hitam」 yang terkenal di tempat itu, tetapi mereka tidak memiliki 「kesetiaan」 yang diwakili oleh 「pakaian putih」. Juga obat tetes mata yang sangat baik yang dijual di sana, tetapi mata mereka tidak baik, tidak melihat masalah dalam kehidupan rohani diri mereka: 「engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang」 (ayat 17), sehingga Anak Manusia mengatakan : 「Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku …」 (ayat 18).

Ternyata kekayaan dan prestasi sejati ada di dalam Tuhan, karena hanya Dia yang bisa memberi kita hidup berkekayaan, keselamatan hidup, dan kesembuhan kehidupan. Tanpa berkat-berkat sejati ini, bagaimana mereka bisa menjadi saksi yang benar dan efektif?

Renungkan:

Apakah gedung gereja yang berselaput emas indah lebih mampu menjadi saksi kemuliaan Tuhan daripada gereja yang biasa? Bagaimana bisa melihatnya?

Apakah kualifikasi akademik yang bagus, kekayaan pengetahuan, dan bahkan studi mendalam tentang Alkitab, dapat membuat kita menjadi saksi Allah yang setia dapat dipercaya dan benar?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 3:7-13

「Kristus Membuka Pintu, Tiada yang Bisa Menutup」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 3:7-13 [ITB])
7 Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.
8 『Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. 9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. 10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. 11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu. 12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.
13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.』」

Anak Manusia adalah 「… yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka」 (ayat 7) – di sini 「kunci」 jelas merupakan kunci dari pintu, karena Anak Manusia berkata 「Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun」 (ayat 8). Apa arti pintu ini? Sejak abad kesembilan belas pekerjaan misionaris berkembang pesat, banyak orang telah menafsirkannya sebagai pintu Injil. Namun, baik dari latar belakang sejarah atau dari teks sebelum dan sesudahnya, kita dapat melihat bahwa masalah yang dibicarakan Anak Manusia adalah penolakan orang Yahudi terhadap Kristus dan penolakan terhadap gereja.

Pada saat ini, gereja Filadelfia sedang ditolak oleh sinagoga (tempat ibadat orang Yahudi) pintu tertutup bagi mereka, maka Anak Manusia memberi mereka pintu yang terbuka, yang berarti bahwa melalui Kristus, mereka dapat masuk ke hadirat Tuhan dan beribadah dan dekat dengan Tuhan tanpa rintangan. Dengan adanya pintu surgawi ini, mereka tidak perlu sinagoga lagi.

Surat ini penuh dengan penghargaan, pengakuan, dan janji kepada gereja Filadelfia. Kekuatan mereka memiliki kecil (「kekuatan tidak seberapa」), tetapi mereka menaati Firman kebenaran Tuhan (ayat 8). Secara relatif, orang-orang Yahudi menyombongkan diri bahwa mereka adalah keturunan Daud, umat yang dikasihi Allah, dan meninggikan sinagoga Yahudi sebagai tempat ibadah yang sah, tetapi Anak Manusia mencela mereka bahwa mereka berbohong, karena Anak Manusia adalah Yang suci, Yang sebenarnya, Tuan pemegang kunci rumah Daud. Lebih ironis lagi, gereja Filadelfia barulah umat yang dicintai Allah, dan akan menjadi raja bersama Kristus. Oleh karena itu, Anak Manusia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi juga akan tersungkur sujud di depan kakinya (ayat 9). Karena mereka bertekun menaati Firman Tuhan, mereka juga akan dilindungi dalam pencobaan hari akhir (ayat 10-11, 「melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang」 tidak harus berarti 「menghindari」 pencobaan). Anak Manusia berjanji bahwa orang yang menang akan menjadi sokoguru di dalam Bait Suci, dan tidak akan mengalami pengusiran lagi, yakni akan bersama Allah selamanya. Di sini, Bait Suci dan kota suci Allah bukan lagi menjadi kota dan bait Perjanjian Lama, tetapi Yerusalem baru pada akhir zaman (ayat 12; lih. Yeh. 48:35).

Penghiburan, afirmasi, dan janji-janji ini juga sangat penting bagi kita. Sebagai orang Kristen, kita sering menjadi minoritas dalam masyarakat dan bahkan merupakan kelompok yang terpinggirkan. Banyak kali, orang Kristen ditolak oleh masyarakat arus utama. Baru-baru ini di Amerika Serikat yang kita pikir merupakan negara Kristen, universitas-universitas di sana bahkan telah menolak kelompok organisasi siswa Injili, dikecualikan sebagai kelompok organisasi universitas yang sah, mereka tidak diperbolehkan memiliki identitas dan aktivitas bersama secara formal, bukankah ini pengalaman yang serupa dengan yang dialami Filadelfia. Jika identitas diri kita didasarkan pada standar dunia ini, sulit bagi kita untuk memegang teguh kebenaran Firman.

Tapi terima kasih Tuhan! Kita adalah yang dikasihi Tuhan, dan kita memiliki posisi yang sangat pasti dalam Kerajaan kekal. Kita seperti sokoguru Bait, selalu bersama Tuhan. Mari kita ingat janji-janji yang ditulis dalam perikop ini, dalam menghadapi penolakan dunia, kita tahu bahwa kita memiliki identitas, status, dan martabat yang penuh kasih di dalam Tuhan.

Renungkan:
Surat ini mengungkit pertentangan gereja Filadelfia dengan orang Yahudi, apakah mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang menolak kita? Bagaimana kita bisa berbaik hati menghadapi penolakan orang lain?

Bahkan jika kita tidak dikucilkan dalam masyarakat, kita juga harus bertanya pada diri sendiri: di atas dasar apa harga diri dan identitas diri saya dibangun? Apakah sepenuhnya tergantung pada rasa hormat dan penerimaan orang-orang di sekitar Anda, atau apakah hidup dengan iman dan martabat dalam cinta dan janji-janji kekal Tuhan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 3:1-6

「Apakah Anda Kristen yang Sudah Hampir Mati Iman?」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 3:1-6 [ITB])
1Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: 『Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. 3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. 4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. 5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.
6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.』」

Di awal surat ini, kita dapat langsung melihat bahwa masalah gereja Sardis sangat serius. Anak Manusia berkata, 「Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!」 (3:1). Di sini dipakai dua kontras untuk menegurkan kegagalan mereka, yaitu, mereka terkenal namun kosong, meskipun hidup tetapi hampir mati! Kedua kontras ini menghasilkan retorika dan ironi.

Pada saat itu, Sardis adalah kota yang memiliki reputasi dan sejarah lama yang berabad-abad. Tetapi pada awal abad pertama, setelah gempa bumi yang tiba-tiba, semua bangunan hancur, dan kemudian dibangun kembali, namun tidak ada kemuliaan seperti sebelumnya. Bayangkan gereja Sardis yang tidak sesuai antara nama dan kenyataan, bukankah mereka sama seperti kota tersebut yang tenar namanya namun tidak sesuai kenyataan?

Adapun kontras lainnya, hidup dan mati, justru berlawanan dengan Anak Manusia, karena Tuhan 「yang mati dan hidup kembali」 (lih. 1-18, 2:8); tetapi kehidupan gereja Sardis justru adalah kebalikannya: mereka pernah hidup, namun segera akan mati. Anak Manusia mencela mereka dan berkata 「Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati」 (ayat 2a), artinya gereja Sardis sekarat sedang, dalam proses kematian.

Kehidupan yang mati tidak lagi memiliki motivasi. Kitab suci tidak secara khusus menyatakan di mana letak kesalahan gereja Sardis. Tidak memiliki kasih? Berkompromi dengan dunia? Atau tidak bersaksi bagi Tuhan? Sebenarnya, mereka pada dasarnya tidak memiliki motivasi, oleh karena itu apa yang dikritik Anak Manusia adalah 「pekerjaan」 mereka (ayat 1, 2) : 「tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku」 (ayat 2b). Kata sempurna di sini bukanlah menuntut kesempurnaan (perfect), melainkan bahwa mereka sama sekali tidak ada satu hal pun 「yang selesai」 (complete). Memiliki nama sebagai orang Kristen, tetapi dalam perilaku tidak ada tindakan. Ini yang dikatakan Yakobus: iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:20).

Kita mungkin mengatakan bahwa untungnya kehidupan spiritual saya tidak sekarat. Tapi hati-hati! Di lingkungan yang nyaman dan aman, orang paling mudah 「tertidur」. Gereja Sardis terletak di kota dengan reputasi baik dan tidak ada penganiayaan, awalnya mungkin hanya 「tidak berjaga-jaga」, tetapi tanpa disadari hasilnya adalah 「mati」 (sekarat). Ini adalah peringatan bagi kita.

Selain itu, Kitab Suci tidak hanya memberi kita peringatan, tetapi juga menjelaskan cara kembalinya kehidupan dari kematian yang diajarkan oleh Tuhan: 「ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah」 (ayat 3). Ternyata Injil Tuhan Yesus mencakup semua pelajaran yang diminta untuk ditaati para murid (lih. Mat 28:20). Selama kita mengingat dan memahami pelajaran-pelajaran itu, bertekad untuk mengikuti, maka kehidupan akan mendapat perubahan. Juga selama kita mau bertobat, Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk bertindak. Kekuatan kehidupan spiritual terletak pada Roh Kudus dan dalam pemeliharaan dan pimpinan Allah.

Di awal surat, Anak Manusia menyebut dirinya 「yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang」 (3:1), itu menunjukkan Ia memiliki sumber kehidupan, dan dapat mengirim Roh serta utusan Allah untuk membantu kita (lih. 1-20) agar kita dihidupkan kembali.

Renungkan:

Hendaknya menghindari jatuh ke dalam situasi inkonsistensi, nama tidak sesuai kenyataan, sudah hidup namun lalu mati, orang percaya harus tahu bahwa Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengikuti ajaran-Nya.

Bagaimana kita dapat menunjukkan pengajaran apa saja yang harus diikuti ketika kita mengabarkan Injil? Bagaimana kita dapat dengan cara yang efisien dan efektif membantu orang memahami serta menjalankan ajaran Tuhan?

Apakah saya berada dalam lingkungan yang aman dan nyaman sehingga saya tidak berjaga atas iman saya? Apakah saya tinggal di kota, dan setiap hari bekerja keras demi kehidupan jasmani, dan tanpa cacat memperlakukan kehidupan surgawi yang Allah anugerahkan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 2:18-29

「Mempertahankan Kebenaran yang Paling Dasar」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 2:18-29 [ITB])
18 Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: 「Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga:
19 『Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.
20 Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. 21 Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya.
22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. 23 Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.
24 Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. 25 Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. 26 Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; 27 dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku 28 dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.
29 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.』」

Dalam surat ini, Anak Manusia, Yesus secara khusus menuliskan hal-hal yang layak untuk dipuji dari gereja Tiatira: kasih, iman, pelayanan, ketekunan, pekerjaan (ayat 19), dan Dia menunjukkan bahwa Ia tahu mereka melakukan perbuatan baik yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. Dengan demikian, gereja Tiatira lebih diberikan pujian oleh Tuhan daripada gereja Efesus (2:1-7) yang kehilangan kasih mula-mulanya. Tetapi Tuhan juga menegur mereka dan berkata 「Aku mencela engkau」 (ayat 20, beberapa terjemahan menuliskan secara eksplisit “satu hal”, tidak ada dalam ITB). 「Satu hal」 ini dibandingkan gereja Pergamus yang ditegur Tuhan atas 「beberapa keberatan」 (2:14), tampaknya lebih baik! Kenyataannya, kesalahan gereja Tiatira sepertinya kurang serius karena mereka tidak mengikuti ajaran sesat dalam skala besar. Mereka hanya 「membiarkan」mentolerir pengajaran beberapa orang (ayat 20), tetapi Tuhan menegaskan bahwa orang-orang yang mereka biarkan pada kenyataannya tidak dapat diterima dan tidak dapat ditolerir (ayat 21-23).

Mereka 「membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah.」 Di sini Izebel adalah nama untuk penggambaran. Dalam Perjanjian Lama, Izebel adalah seorang wanita penyembah Baal yang terkenal jahat, setelah menikahi raja Israel, ia memimpin orang Israel untuk menyembah berhala-berhala Kanaan dan mengangkat ratusan nabi palsu, mengadakan perlawanan terhadap nabi Tuhan Elia, dan mengejar dia untuk membunuhnya (1 Raja-Raja 16-21). Di sini Izebel sebagai metafora, maka dapat dibayangkan bahwa ada ajaran palsu yang mengancam iman gereja Tiatira, yang bukan sekedar masalah adanya cacat dalam doktrin, atau kehidupan yang kehilangan kesaksian saja, tetapi ada orang di gereja melaksanakan agama lain, agak mirip dengan tuduhan Paulus dalam Galatia: 「suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. .. memutarbalikkan Injil Kristus.」 (Gal. 1:6-7) Kita melalui surat itu dapat melihat salah satu karakteristik agama palsu ini adalah sering berbicara tentang 「seluk-beluk Iblis」 (ayat 24, hal-hal yang dalam tentang Iblis, the deep things of Satan). Ternyata pada waktu itu budaya Yunani meninggikan filsafat esoterik yang dalam (yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok orang tertentu dan khusus, dapat juga berarti suatu hal yang susah untuk dipahami), dan Izebel menambahkan prinsip-prinsip filsafat esoteris ini kepada orang-orang percaya (ayat 20 「hamba-hamba-Ku」 mengacu pada orang percaya yang bersaksi bagi Tuhan), menjadi seperti beban, membuat orang-orang berpikir bahwa harus memiliki pengetahuan yang dalam baru bisa mendapatkan Injil atau menjadi orang percaya yang lebih baik, tetapi Tuhan menyebutnya adalah seluk beluk Iblis, dan menasehati gereja Tiatira, mengatakan, 「Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. 25 Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang」 (ayat 24-25)

Hari ini, dalam budaya kita, ada agama-agama lain dan filosofi lain yang harus dihormati, tetapi mungkin ada beberapa orang yang berambisi dan berkuasa seperti Izebel yang ingin menambahkan filosofi lain pada iman Kristen. Jika demikian, gereja harus waspada. Orang percaya adalah hamba Tuhan, ingat kata-kata Tuhan: Jagalah kebenaran dasar dan jangan biarkan agama atau ide lain ditambahkan ke dalam iman kita menjadi beban berat yang kita tanggung.

Renungkan:
Orang percaya sebelum percaya kepada Tuhan mungkin mempelajari ramalan, atau berbagai ilmu-ilmu lain. Tetapi setelah percaya kepada Tuhan, dapatkah Anda terus memperdalam ilmu-ilmu tersebut? Bisakah Anda berlatih tenaga dalam agama Tao tanpa percaya agama Tao? Lalu bagaimana pendapat kehendak Tuhan?

Izebel membawa empat ratus lima puluh nabi Baal ke gunung Karmel untuk melawan nabi Elia, dan kemampuan mereka pasti tidak kecil. Apa yang akan Anda pilih memiliki kemampuan mereka atau meneladani contoh nabi Elia berdoa kepada Tuhan?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.

Wahyu 2:12-17

「Menolak Kompromi Dengan Dunia」
Oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) Alliance Bible Seminary H.K.

(Why. 2:12-17 [ITB])
12 「Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: 『Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: 13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. 14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. 15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. 16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.
17 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapapun, selain oleh yang menerimanya.』」

Surat ini adalah untuk gereja di Pergamus, isi suratnya sangat keras. Anak Manusia menyatakan bahwa diri-Nya adalah 「pedang yang tajam dan bermata dua」 (ayat 12), yang menunjukkan bahwa Dia adalah hakim yang hebat. Surat itu dapat dilihat ada kata-kata pujian terhadap gereja (ayat 13), tetapi kata-kata teguran dan peringatan tampaknya lebih menonjol (ayat 14-15). Bisa dilihat dari pujian Tuhan atas gereja Pergamus, mereka sangat teguh dalam iman dan tidak meninggalkan Firman Tuhan, tetapi mengapa gereja seperti itu mendapat teguran? Dalam hal apakah mereka jatuh? Ini benar-benar layak menjadi kewaspadaan bagi kita.

Pergamus adalah kota beradanya 「takhta Iblis」. Ini berarti di kota ini terdapat kekuatan besar Setan, yang termasuk kuil menyembah Caesar dan menyembah dewa-dewa kafir. Gereja tidak tunduk pada kekuatan Setan ini, sebaliknya, mereka bersikeras menjaga nama Tuhan, dan bahkan beberapa orang mati martir bagi Tuhan, mereka tidak mengkhianati Tuhan. Namun, serangan yang terang-terangan mudah ditahan, dan panah gelap sulit untuk dicegah. Di dalam gereja terdapat 「ajaran Bileam」 artinya di dalam gereja ada guru-guru palsu yang menyesatkan orang-orang dengan ajaran sesat yang terlihat seperti benar. Para guru palsu ini, seperti Bileam nabi palsu yang disebutkan dalam kitab Bilangan di Perjanjian Lama, yang demi keserakahan materi sehingga tidak taat perintah Allah, berusaha menyesatkan orang Israel, mencobai mereka untuk melakukan kejahatan dan perzinahan (lih. Bil. pasal 22-34; 31:16, 2 Pet. 2:15). Kesalahan dari para guru ini bukanlah secara langsung meninggalkan Tuhan, tetapi untuk mengoda orang dalam kehidupan berkompromi dengan dunia, untuk memanjakan nafsu, dan kemudian membangkitkan hati memberontak melawan Tuhan. Mereka mengajarkan bahwa mereka yang kuat imannya dapat dengan penuh keyakinan makan daging yang dipakai menyembah berhala, tetapi mereka keliru percaya perkataan ini akhirnya akan makan dengan membawa hati penuh kompromi. Karena di Pergamus yang penuh agama kafir, demi mendapat pengakuan dan mendapat manfaat dari masyarakat, seringkali perlu untuk ikut makan dalam ritual penyembahan berhala dan makan daging korban bersama mereka. Dengan demikian, para kompromi ini tersandung ajaran Bileam, dan mendapat manfaat jangka pendek, namun kehilangan kesaksian bagi Tuhan, seiring waktu, diasimilasi atau dirusak oleh sekuler. Dan 「berbuat zinah」, ini berarti mereka dalam tindakannya sama seperti dunia, dan mereka tidak lagi setia kepada Tuhan.

Hari ini, tempat di mana kita hidup belum tentu dipenuhi dengan pemujaan terhadap Caesar dan agama kafir seperti Pergamus, tetapi surat ini masih mengingatkan kita agar berhati-hati untuk mencegah kita dari godaan kita melalui kepentingan dunia: nama, keuntungan, makan, minum, ini tampaknya menjadi hal-hal dalam hidup, secara permukaan tidak selalu bertentangan dengan iman, tetapi mereka dapat menyesatkan orang dan membuat orang berkompromi dengan dunia dan beralih ke kekuatan dunia (lih. Yoh. 2:15-17). Tidak heran Tuhan berikan peringatan keras atas gereja: bertobatlah! Tuhan menjanjikan 「manna yang tersembunyi」kepada pemenang dan 「batu putih」 yang bertuliskan nama baru. Manna adalah makanan surgawi yang diberikan oleh Tuhan, dan batu putih menurut salah satu penjelasan yang paling sesuai, adalah surat ijin masuk perjamuan, karena tidak ada kertas di zaman kekaisaran Romawi, praktik umum adalah menggunakan batu sebagai tiket masuk pesta, tetapi Tuhan Dia mengatakan bahwa Dia ingin memberi orang suatu perjamuan akhir zaman yang berkelimpahan, yang lebih baik, lebih lama dan lebih layak daripada makan dan minum dalam kehidupan sekarang ini. Semua berkat ini tidak terbatas nilainya, tetapi hanya mereka yang menerima anugerah Tuhan dapat melihat dan menikmatinya.

Renungkan:
Hal apa yang paling saya sukai atau paling rindukan dalam kehidupan saat ini? Apakah saya membiarkan hal-hal ini mengontrol saya dan membuat saya tersesat di dalamnya? Dapatkah saya dengan jujur membicarakan hal-hal ini kepada Tuhan? Dapatkah saya dengan jujur bersyukur kepada Tuhan untuk hal-hal ini?

Di lingkungan kerja atau bisnis, kita perlu membangun hubungan kerja sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, mungkin bekerja bersama atau menjalankan bisnis.

Pernahkah Anda mencoba membakar dupa dan menyembah berhala? Apakah saya mengekspresikan prinsip iman saya dan menolak berkompromi?

Pernahkah Anda mengalami konflik sistem nilai dalam hubungan kerja Anda? Dapatkah Anda menyadari dengan jelas bahwa Tuhan Yesus menuntun saya di tempat kerja saya dan menjadikan saya hamba yang setia?


Renungan (klik untuk membuka)

Renungan pemahaman (klik untuk membuka)


Diterjemahkan dari 「爾道自建 Ěr Dào Zì Jiàn」, tema Kitab Wahyu 1 – 10 ditulis oleh 吳慧儀 (Wú Huì Yí) yang dipublikasi pada bulan Desember 2018, merupakan hak cipta (copyright) Alliance Bible Seminary H.K (建道神學院 Jiàn Dào Shén Xué Yuàn).


Untuk Kalangan Kristen.